Senin, 24 Juli 2017

Walking Back to Jenggala's Kingdom


Sejarah tidak akan tercatat tanpa adanya campur tangan masa lalu. Nusantara yang kaya akan budaya dan seni merupakan potensi menarik untuk diulas. Kerajaan menjadi salah satu aset peninggalan sejarah yang kadang dilupakan. Majapahit yang merupakan kerajaan terbesar sepanjang sejarah Nusantara memiliki banyak andil dalam perkembangan masa kini. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa banyak kerajaan-kerajaan lain yang turut membangun perdabana negeri hingga seperti saat ini. 

Jawa menjadi pusat kerjaan-kerajaan besar maupun kecil di Nusantara. Salah satu kerajaan yang jarang terdengar sampai ke telinga ialah Kerajaan Jenggala. Kerajaan ini berdiri pada tahun 1045 hingga 1136. Sejarah mencatat bahwa Jenggala adalah kerajaan yang berpusat di daerah Sidoarjo, Jawa Timur. Awal mula pembentukan kerajaan ini ialah ketika Airlangga, ingin mewariskan tahta Kerjaan Kahuripan kepada keturunannya. Putri mahkota Airlangga, Sanggramawijaya Tunggadewi, memilih pertapa sebagai jalan hidupnya dan tidak tergoda dengan kehidupan hedon kerajaan. Hal ini menimbulkan perebutan kekuasaan bagi kedua putra Airlangga, Lembu Amisena dan Lembu Amiluhung. Lembu Amisena yang memiliki gelar Sri Jayawarsa mendapat Kerajaan Kadiri sementara itu Lembu Amiluhung yang memiliki gelar Sri Jayantaka mendapat Kerajaan Jenggala.

Kerajaan Jenggala yang berpusat di sebelah utara memiliki tingkat ekonomi yang tinggi sebab jalur perdagangan melintasi jalur utara Porong. Berbeda dengan saudaranya yaitu Kerajaan Kadiri yang lebih kuat dalam bidang agraris, keprajuritan, dan militer. Hal ini menimbulkan kecemburuan yang menyebabkan perpecahan antar dua kubu. Ekonomi pada kerajaan Jenggala berkembang pesat di Porong yang merupakan bandar dagang terbesar kedua setelah Sriwijaya. Kejayaan yang dialami Kerajaan Jenggala juga dilengkapi dengan kecemasan. Kecemasan yang terjadi di Kerajaan Jenggala karena Kerajaan Daha melayangkan serangan kepada Jenggala, saudaranya.

Kerajaan Jenggala mengalami pergantian beberapa raja seperti Mapanji Garasakan, Alanjung Ahyes dan Samarattongga. Lengsernya Kerajaan Jenggala ini disebabkan karena pertikaian antar saudara. Hingga saat ini, diduga istana Kerajaan Jenggala berada di daerah Lamongan. Masih tercatat pada Prasasti Kembang Putih yang ada di Lamongan. Keraton Jenggala masih ditemukan hingga tahun 1059 yang saat itu dipimpin oleh Samarattongga. Namun setelah kepemimpinannya, Kerajaan Jenggala hilang dari sejarah.

Sabtu, 15 Juli 2017

Multikultural dalam Harmonisnya Singkawang

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang (sumber: https://indolah.com/)

Singkawang merupakan salah satu kota yang berada di Pulau Kalimantan. Asal muasal nama kota ini ialah dari bahasa "Hakka" yaitu San Khwe Jong yang artinya sebuah bukit. Karena Singkawang dikelilingi oleh lautan, sering pedagang China singgah di tempat ini. Pedagang emas dari Monterado juga tidak segan untuk siggah di sini.  Dahulu Singkawang tergabung menjadi daerah Kasultanan Sambas. Namun, setelah beberapa tahun, tepatnya tahun 2001 Singkawang resmi menjadi daerah otonom. 

Singkawang terletak pada posisi geografis yang strategis dan memungkinkan banyak peluang. Para pedagang Tionghoa yang singgah di Singkawang melihat peluang yang sangat bagus dari daerah ini yang bisa dikembangkan. Hal ini yang membuat para pedagang akhirnya menetap di kota ini untuk berjualan dan melakukan aktivitas jual-beli lainnya dan juga menikahi gadis-gadis Singkawang untuk mempunyai keturunan. Selain menjadi pusat perdagangan pedagang Tionghoa, kota ini kaya akan budaya. Singkawang sangat akrab dengan budaya yang multikultural. Percampuran budaya di Singkawang begitu kental namun tetap harmonis. Di Singkawang, hidup berdampingan antara Melayu, Tionghoa dan Dayak. Mereka hidup berdampingan tanpa adanya konflik. 

Orang-orang melayu terdesak dan tersebar ke seluruh Nusantara akibat bencana alam maupun perang berbaur dengan masyarakat asli Singkawang yaitu Dayak. Dengan kedatangan pedagang Tionghoa, masyarakat di Singkawang semakin berbaur. Akulturasi dari 3 etnis yang berbeda justru memperkaya budaya Singkawang dalam segi seni dan budaya. Perayaan Cap Go Meh setiap tahunnya dirayakkan meriah di Singkawang. Ini adalah salah satu wujud keharmonisan dari akulturasi 3 budaya. Jika penasaran, Anda bisa mengunjungi Singkawang saat event itu berlangsung.